Antara Main dan Belajar:
Aplikasi Edukatif Bantu Anak Kuasai Pelajaran
Malang, 24 Juni 2025
– Teknologi kini menjadi bagian penting dalam kehidupan anak-anak. Tidak hanya
sebagai sarana hiburan, gawai dan internet mulai dimanfaatkan sebagai media
pembelajaran. Sejumlah aplikasi edukatif seperti Khan Academy Kids, Marbel Edu
Games, dan PAUDPEDIA semakin banyak digunakan dalam kegiatan belajar anak usia
dini.
Aplikasi-aplikasi
tersebut menawarkan berbagai fitur pembelajaran interaktif, mulai dari mengenal
huruf dan angka, mewarnai, hingga permainan logika sederhana. Materi disajikan
dalam bentuk animasi dan audio yang menarik, sehingga anak-anak lebih betah belajar.
Berdasarkan survei
internal Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
(Kemendikbudristek) tahun 2023, dari 2.343 responden yang terdiri dari guru
PAUD dan dinas pendidikan, sekitar 64 persen telah menggunakan aplikasi
PAUDPEDIA selama 1–3 bulan terakhir. Dari jumlah tersebut, 89 persen mengakses
aplikasi lebih dari sekali dalam tiga bulan terakhir.
Namun, para ahli
mengingatkan agar penggunaan teknologi dilakukan dengan pendampingan dan
pengawasan. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan agar anak
usia 2–5 tahun memiliki screen time maksimal satu jam per hari, dengan konten
berkualitas dan didampingi oleh orang dewasa.
Studi Nurina (2021) dari
Universitas Muhammadiyah Surakarta menunjukkan bahwa screen time yang
didampingi orang tua atau guru dapat membantu meningkatkan kemampuan bahasa pragmatik,
yaitu kemampuan menggunakan bahasa sesuai konteks sosial pada anak usia 4–6
tahun. Sebaliknya, jika screen time dilakukan secara pasif atau berlebihan,
paparan teknologi berisiko menghambat perkembangan sosial dan bahasa anak,
seperti yang dijelaskan dalam studi pustaka dari Fakultas Psikologi Universitas
Airlangga (2021).
Tak hanya berdampak pada
bahasa, screen time berlebih juga dikaitkan dengan masalah pola makan dan
risiko kurang gizi. Penelitian di wilayah Jabodetabek oleh Putri et al. (2021)
menunjukkan bahwa balita dengan screen time satu jam atau lebih per hari cenderung
lebih lambat makan dan kurang mengonsumsi makanan bergizi.
Dengan kata lain,
teknologi dapat menjadi alat yang sangat membantu proses belajar anak asal
digunakan secara bijak. Peran orang tua dan pendidik sangat penting dalam
memilih konten yang sesuai, mengatur waktu penggunaan, serta memastikan anak
tetap aktif secara fisik dan sosial di luar layar.
PENDIDIKAN TEKNOLOGI ANAK, INVESTASI CERDAS DI
ERA DIGITAL
Jakarta,
24 Juni 2025. Pendidikan teknologi anak kini menjadi perhatian utama di tengah
pesatnya arus digitalisasi. Di Jakarta dan berbagai kota besar lainnya,
sekolah-sekolah mulai menerapkan kurikulum berbasis teknologi untuk membekali
anak-anak dengan keterampilan digital sejak dini. Langkah ini dinilai penting
agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu
menciptakan dan mengelolanya secara bijak.
Gambar
2. Ilustrasi kegiatan belajar teknologi di
ruang kelas anak. Gambar buatan AI ini digunakan untuk
kepentingan edukatif.
Program
pendidikan teknologi kini tidak hanya diajarkan di sekolah menengah atau
perguruan tinggi, tetapi juga mulai merambah ke jenjang pendidikan dasar bahkan
prasekolah. Anak-anak diperkenalkan dengan perangkat digital melalui cara yang
menyenangkan, seperti permainan edukatif, robotika sederhana, hingga pengenalan
dasar coding dengan metode visual yang mudah dipahami.
Salah
satu inisiatif menarik datang dari SD Negeri 07 Jakarta Selatan yang
meluncurkan program “TechSmart Kids.” Dalam program ini, siswa belajar
menggunakan aplikasi pembelajaran interaktif, memahami cara kerja teknologi,
serta belajar membuat animasi dan game sederhana. Proses pembelajaran dilakukan
dengan pendekatan fun learning agar anak-anak merasa nyaman dan antusias.
Menurut
Kepala Sekolah SDN 07, Ibu Winda Hartati, program ini membawa dampak positif
dalam meningkatkan keterampilan berpikir logis dan kreatif siswa. “Anak-anak
zaman sekarang tidak bisa dijauhkan dari teknologi. Jadi, tugas kami adalah
mengarahkan mereka agar menggunakan teknologi secara positif dan produktif,”
jelasnya.
Tak
hanya di sekolah, peran orang tua juga sangat penting dalam pendidikan
teknologi anak. Banyak orang tua di Jakarta yang kini mulai mengenalkan
aplikasi belajar di rumah, serta mengawasi penggunaan gadget dengan lebih
bijak. Mereka juga mengikuti pelatihan daring untuk memahami bagaimana
teknologi dapat menjadi alat bantu belajar yang efektif, bukan sekedar hiburan.
Dinas
Pendidikan Provinsi DKI Jakarta menyambut baik tren ini. Mereka menyatakan
bahwa pada tahun 2026, seluruh SD di ibu kota akan mengimplementasikan modul
khusus pembelajaran teknologi. Selain itu, pemerintah juga menyediakan
pelatihan guru dan bantuan perangkat digital bagi sekolah-sekolah yang belum
memiliki fasilitas teknologi yang memadai.
Pakar
pendidikan anak dari Universitas Indonesia, Dr. Nurlaela Sari, menyampaikan
bahwa pendidikan teknologi sejak dini sangat penting untuk mempersiapkan anak
menghadapi masa depan. “Kita hidup di era digital. Namun, literasi digital
bukan hanya soal bisa menggunakan perangkat, tetapi juga soal etika, keamanan,
dan kreativitas. Pendidikan teknologi sejak dini adalah bekal penting agar
anak-anak bisa beradaptasi dan bersaing di dunia global,” ujarnya.
Namun,
pendidikan teknologi anak tetap harus diimbangi dengan pembentukan karakter dan
pembelajaran sosial. Anak-anak tetap perlu diajarkan berinteraksi secara
langsung, bermain di luar ruangan, serta memiliki waktu tanpa layar untuk
menjaga kesehatan mental dan fisik mereka.
Dengan
kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan pemerintah, pendidikan teknologi anak
diharapkan mampu menciptakan generasi masa depan yang tidak hanya cakap
digital, tetapi juga memiliki empati, tanggung jawab, dan jiwa kepemimpinan.
Inilah tantangan sekaligus peluang besar dalam dunia pendidikan di era revolusi
digital.
PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH, KUNCI
MEMBANGUN GENERASI BERAKHLAK DI ERA DIGITAL
Bandung,
25 Juni 2025. Pendidikan karakter kembali menjadi fokus utama dalam dunia
pendidikan Indonesia. Di era yang serba cepat dan digital ini, nilai-nilai
seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati mulai ditanamkan sejak dini
melalui berbagai program sekolah, terutama di tingkat dasar dan menengah.
Bandung menjadi salah satu kota pelopor dalam penerapan kurikulum pendidikan
karakter yang terintegrasi dengan kegiatan harian siswa.
Gambar
3. Kegiatan pendidikan karakter di ruang
kelas SMP Negeri. Gambar ilustrasi buatan AI ini digunakan untuk
kepentingan edukatif
Salah
satu contoh inovasi datang dari SMP Negeri 12 Bandung yang menerapkan program
“Karakter Bangsa Hebat.” Program ini menggabungkan kegiatan pembelajaran dengan
praktik langsung, seperti kegiatan sosial, kerja kelompok, dan diskusi
nilai-nilai moral yang dikaitkan dengan kehidupan nyata siswa. Guru bukan hanya
berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan dalam membentuk sikap
dan perilaku positif.
Kepala
Sekolah SMPN 12, Bapak Ahmad Fahrurozi, menjelaskan bahwa pendidikan karakter
sangat relevan dengan tantangan zaman. “Kami ingin mencetak siswa yang tak
hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki hati dan akhlak yang baik.
Ini adalah pondasi penting agar mereka bisa menjadi pemimpin masa depan yang
berintegritas,” ujarnya.
Pemerintah
Kota Bandung pun mendukung penuh gerakan ini. Melalui Dinas Pendidikan,
berbagai pelatihan dan lokakarya digelar untuk membekali guru dengan strategi
penguatan karakter di kelas. Modul pendidikan karakter kini disisipkan dalam
mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia, IPS, dan bahkan Matematika melalui
pendekatan kontekstual.
Salah
satu kegiatan rutin yang menjadi andalan adalah “Jumat Berbagi,” di mana siswa
diajak berbagi makanan, buku, atau waktu dengan sesama. Kegiatan ini tidak
hanya menanamkan nilai empati, tetapi juga mengajarkan pentingnya rasa syukur
dan kepedulian terhadap orang lain. Banyak siswa yang awalnya pemalu kini lebih
aktif dan peduli terhadap lingkungan sekitar.
Tak
hanya di sekolah, kolaborasi dengan orang tua juga menjadi bagian penting.
Komite sekolah dan wali murid diajak berperan aktif dalam membentuk budaya
positif, mulai dari hal sederhana seperti mengatur waktu belajar di rumah,
mengawasi penggunaan gawai, hingga memberi teladan sikap baik di lingkungan
keluarga.
Respon
siswa terhadap program ini pun sangat positif. Naila, siswi kelas VIII SMPN 12,
mengaku menjadi lebih percaya diri dan peduli terhadap teman-temannya. “Dulu
aku malu kalau disuruh tampil atau bicara. Tapi sekarang, aku berani memberi
pendapat dan suka ikut kegiatan sosial,” ujarnya dengan semangat.
Psikolog
pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia, Dra. Lestari Yuniarti,
menyatakan bahwa pendidikan karakter bukanlah sesuatu yang bisa dicapai dalam
semalam. “Dibutuhkan konsistensi dan keteladanan dari semua pihak guru, orang
tua, dan lingkungan sekitar. Anak belajar dari apa yang mereka lihat dan alami
setiap hari,” tegasnya.
Selain
itu, pendidikan karakter juga dinilai penting dalam mencegah perilaku
menyimpang di kalangan remaja, seperti perundungan, intoleransi, dan kecanduan
media sosial. Dengan nilai-nilai moral yang kuat, siswa dapat memilah mana yang
baik dan buruk, serta belajar menyelesaikan masalah dengan bijak.
Di
tengah tantangan globalisasi dan media sosial yang begitu masif, pendidikan
karakter adalah benteng penting agar anak-anak tetap berpijak pada nilai-nilai
luhur bangsa. Kota Bandung membuktikan bahwa membentuk karakter tidak harus
membosankan, justru bisa dikemas menjadi pembelajaran yang menyenangkan dan
bermakna.
PENDIDIKAN INKLUSIF DI YOGYAKARTA, RUANG
BELAJAR UNTUK SEMUA ANAK
Yogyakarta,
26 Juni 2025. Pendidikan inklusif semakin berkembang di berbagai wilayah
Indonesia, termasuk di Kota Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar.
Semangat untuk menyediakan ruang belajar yang setara bagi semua anak, termasuk
mereka yang memiliki kebutuhan khusus, kini menjadi prioritas utama bagi
sekolah-sekolah dasar hingga menengah. Pemerintah daerah, sekolah, dan
masyarakat bersinergi mewujudkan pendidikan yang ramah dan terbuka untuk semua.
Gambar
4. Kegiatan belajar di kelas inklusif SD.
Gambar ilustrasi buatan AI ini digunakan untuk kepentingan edukatif.
Salah
satu contoh inspiratif datang dari SD Negeri Percobaan 1 Yogyakarta. Sekolah
ini telah menjalankan program inklusi selama lima tahun terakhir dengan
pendekatan berbasis empati, pendampingan khusus, dan pelatihan guru. Anak-anak
dengan disabilitas belajar bersama teman-temannya di kelas reguler, didampingi
oleh guru pendamping yang memahami kebutuhan masing-masing siswa.
Menurut
Kepala Sekolah SDN Percobaan 1, Ibu Retno Widyastuti, program ini bukan hanya
tentang memberikan akses pendidikan, tetapi juga membangun lingkungan yang
saling memahami. “Kami ingin semua anak merasa diterima. Anak-anak berkebutuhan
khusus tidak hanya hadir di kelas, tapi juga menjadi bagian dari komunitas
belajar yang aktif,” ungkapnya.
Sekolah
juga menyediakan fasilitas pendukung seperti jalur ramah disabilitas, alat
bantu belajar visual, dan ruang terapi. Guru-guru di sekolah ini secara rutin
mengikuti pelatihan pendidikan khusus agar mampu beradaptasi dengan karakter
siswa yang beragam. Selain itu, pendekatan pembelajaran pun dirancang fleksibel
agar bisa mengakomodasi kemampuan tiap anak.
Salah
satu siswa, Arkan (10), yang memiliki gangguan pendengaran, kini bisa mengikuti
pelajaran dengan bantuan alat bantu dengar dan papan visual interaktif. “Aku
senang sekolah di sini. Teman-teman baik dan guru selalu sabar,” katanya sambil
tersenyum. Kisah Arkan menjadi simbol keberhasilan program ini dalam
menciptakan ruang belajar yang menyenangkan dan setara.
Tidak
hanya berdampak bagi anak-anak berkebutuhan khusus, siswa lain juga mendapat
manfaat dari interaksi ini. Mereka belajar empati, toleransi, serta nilai-nilai
kebersamaan. Program seperti “Teman Sebangku Berbagi” dan “Belajar Tanpa Batas”
mendorong siswa saling membantu dan mendukung, tanpa memandang perbedaan.
Pemerintah
Kota Yogyakarta melalui Dinas Pendidikan telah menargetkan semua sekolah negeri
di kota ini menjadi sekolah inklusi pada tahun 2027. Kepala Dinas Pendidikan
Kota, Bapak Dwi Santosa, menegaskan bahwa pendidikan inklusif adalah bentuk
keadilan sosial di dunia pendidikan. “Setiap anak punya hak untuk belajar.
Tugas kita adalah membuka jalan, bukan membatasi,” ucapnya.
Pakar
pendidikan dari Universitas Negeri Yogyakarta, Dr. Endang Puji Rahayu,
menambahkan bahwa pendekatan inklusif memberikan dampak jangka panjang terhadap
pembentukan karakter generasi muda. “Lingkungan inklusif menciptakan generasi
yang lebih terbuka, tangguh, dan siap menghadapi perbedaan di dunia nyata,”
tuturnya.
Dengan
komitmen kuat dari sekolah, pemerintah, dan masyarakat, pendidikan inklusif di
Yogyakarta terus tumbuh menjadi teladan nasional. Ini bukan sekadar program,
melainkan gerakan moral untuk memastikan tidak ada satu pun anak yang
tertinggal dalam perjalanan mereka meraih masa depan.
