Jumat, 27 Juni 2025

PENDIDIKAN

 

Antara Main dan Belajar: Aplikasi Edukatif Bantu Anak Kuasai Pelajaran

Malang, 24 Juni 2025 – Teknologi kini menjadi bagian penting dalam kehidupan anak-anak. Tidak hanya sebagai sarana hiburan, gawai dan internet mulai dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Sejumlah aplikasi edukatif seperti Khan Academy Kids, Marbel Edu Games, dan PAUDPEDIA semakin banyak digunakan dalam kegiatan belajar anak usia dini.


Gambar 1. Ilustrasi anak PAUD belajar dengan aplikasi edukatif di rumah. Gambar buatan AI ini digunakan untuk keperluan edukatif.


Aplikasi-aplikasi tersebut menawarkan berbagai fitur pembelajaran interaktif, mulai dari mengenal huruf dan angka, mewarnai, hingga permainan logika sederhana. Materi disajikan dalam bentuk animasi dan audio yang menarik, sehingga anak-anak lebih betah belajar.

Berdasarkan survei internal Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tahun 2023, dari 2.343 responden yang terdiri dari guru PAUD dan dinas pendidikan, sekitar 64 persen telah menggunakan aplikasi PAUDPEDIA selama 1–3 bulan terakhir. Dari jumlah tersebut, 89 persen mengakses aplikasi lebih dari sekali dalam tiga bulan terakhir.

Namun, para ahli mengingatkan agar penggunaan teknologi dilakukan dengan pendampingan dan pengawasan. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan agar anak usia 2–5 tahun memiliki screen time maksimal satu jam per hari, dengan konten berkualitas dan didampingi oleh orang dewasa.

Studi Nurina (2021) dari Universitas Muhammadiyah Surakarta menunjukkan bahwa screen time yang didampingi orang tua atau guru dapat membantu meningkatkan kemampuan bahasa pragmatik, yaitu kemampuan menggunakan bahasa sesuai konteks sosial pada anak usia 4–6 tahun. Sebaliknya, jika screen time dilakukan secara pasif atau berlebihan, paparan teknologi berisiko menghambat perkembangan sosial dan bahasa anak, seperti yang dijelaskan dalam studi pustaka dari Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (2021).

Tak hanya berdampak pada bahasa, screen time berlebih juga dikaitkan dengan masalah pola makan dan risiko kurang gizi. Penelitian di wilayah Jabodetabek oleh Putri et al. (2021) menunjukkan bahwa balita dengan screen time satu jam atau lebih per hari cenderung lebih lambat makan dan kurang mengonsumsi makanan bergizi.

Dengan kata lain, teknologi dapat menjadi alat yang sangat membantu proses belajar anak asal digunakan secara bijak. Peran orang tua dan pendidik sangat penting dalam memilih konten yang sesuai, mengatur waktu penggunaan, serta memastikan anak tetap aktif secara fisik dan sosial di luar layar.


PENDIDIKAN TEKNOLOGI ANAK, INVESTASI CERDAS DI

 ERA DIGITAL

 

Jakarta, 24 Juni 2025. Pendidikan teknologi anak kini menjadi perhatian utama di tengah pesatnya arus digitalisasi. Di Jakarta dan berbagai kota besar lainnya, sekolah-sekolah mulai menerapkan kurikulum berbasis teknologi untuk membekali anak-anak dengan keterampilan digital sejak dini. Langkah ini dinilai penting agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan dan mengelolanya secara bijak.

 

Gambar 2. Ilustrasi kegiatan belajar teknologi di ruang kelas anak. Gambar buatan AI ini digunakan untuk kepentingan edukatif.

Program pendidikan teknologi kini tidak hanya diajarkan di sekolah menengah atau perguruan tinggi, tetapi juga mulai merambah ke jenjang pendidikan dasar bahkan prasekolah. Anak-anak diperkenalkan dengan perangkat digital melalui cara yang menyenangkan, seperti permainan edukatif, robotika sederhana, hingga pengenalan dasar coding dengan metode visual yang mudah dipahami.

Salah satu inisiatif menarik datang dari SD Negeri 07 Jakarta Selatan yang meluncurkan program “TechSmart Kids.” Dalam program ini, siswa belajar menggunakan aplikasi pembelajaran interaktif, memahami cara kerja teknologi, serta belajar membuat animasi dan game sederhana. Proses pembelajaran dilakukan dengan pendekatan fun learning agar anak-anak merasa nyaman dan antusias.

Menurut Kepala Sekolah SDN 07, Ibu Winda Hartati, program ini membawa dampak positif dalam meningkatkan keterampilan berpikir logis dan kreatif siswa. “Anak-anak zaman sekarang tidak bisa dijauhkan dari teknologi. Jadi, tugas kami adalah mengarahkan mereka agar menggunakan teknologi secara positif dan produktif,” jelasnya.

Tak hanya di sekolah, peran orang tua juga sangat penting dalam pendidikan teknologi anak. Banyak orang tua di Jakarta yang kini mulai mengenalkan aplikasi belajar di rumah, serta mengawasi penggunaan gadget dengan lebih bijak. Mereka juga mengikuti pelatihan daring untuk memahami bagaimana teknologi dapat menjadi alat bantu belajar yang efektif, bukan sekedar hiburan.

Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta menyambut baik tren ini. Mereka menyatakan bahwa pada tahun 2026, seluruh SD di ibu kota akan mengimplementasikan modul khusus pembelajaran teknologi. Selain itu, pemerintah juga menyediakan pelatihan guru dan bantuan perangkat digital bagi sekolah-sekolah yang belum memiliki fasilitas teknologi yang memadai.

Pakar pendidikan anak dari Universitas Indonesia, Dr. Nurlaela Sari, menyampaikan bahwa pendidikan teknologi sejak dini sangat penting untuk mempersiapkan anak menghadapi masa depan. “Kita hidup di era digital. Namun, literasi digital bukan hanya soal bisa menggunakan perangkat, tetapi juga soal etika, keamanan, dan kreativitas. Pendidikan teknologi sejak dini adalah bekal penting agar anak-anak bisa beradaptasi dan bersaing di dunia global,” ujarnya.

Namun, pendidikan teknologi anak tetap harus diimbangi dengan pembentukan karakter dan pembelajaran sosial. Anak-anak tetap perlu diajarkan berinteraksi secara langsung, bermain di luar ruangan, serta memiliki waktu tanpa layar untuk menjaga kesehatan mental dan fisik mereka.

Dengan kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan pemerintah, pendidikan teknologi anak diharapkan mampu menciptakan generasi masa depan yang tidak hanya cakap digital, tetapi juga memiliki empati, tanggung jawab, dan jiwa kepemimpinan. Inilah tantangan sekaligus peluang besar dalam dunia pendidikan di era revolusi digital.

 

 

PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH, KUNCI

 MEMBANGUN GENERASI BERAKHLAK DI ERA DIGITAL

 

Bandung, 25 Juni 2025. Pendidikan karakter kembali menjadi fokus utama dalam dunia pendidikan Indonesia. Di era yang serba cepat dan digital ini, nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati mulai ditanamkan sejak dini melalui berbagai program sekolah, terutama di tingkat dasar dan menengah. Bandung menjadi salah satu kota pelopor dalam penerapan kurikulum pendidikan karakter yang terintegrasi dengan kegiatan harian siswa.

Gambar 3. Kegiatan pendidikan karakter di ruang kelas SMP Negeri. Gambar ilustrasi buatan AI ini digunakan untuk kepentingan edukatif

Salah satu contoh inovasi datang dari SMP Negeri 12 Bandung yang menerapkan program “Karakter Bangsa Hebat.” Program ini menggabungkan kegiatan pembelajaran dengan praktik langsung, seperti kegiatan sosial, kerja kelompok, dan diskusi nilai-nilai moral yang dikaitkan dengan kehidupan nyata siswa. Guru bukan hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan dalam membentuk sikap dan perilaku positif.

Kepala Sekolah SMPN 12, Bapak Ahmad Fahrurozi, menjelaskan bahwa pendidikan karakter sangat relevan dengan tantangan zaman. “Kami ingin mencetak siswa yang tak hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki hati dan akhlak yang baik. Ini adalah pondasi penting agar mereka bisa menjadi pemimpin masa depan yang berintegritas,” ujarnya.

Pemerintah Kota Bandung pun mendukung penuh gerakan ini. Melalui Dinas Pendidikan, berbagai pelatihan dan lokakarya digelar untuk membekali guru dengan strategi penguatan karakter di kelas. Modul pendidikan karakter kini disisipkan dalam mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia, IPS, dan bahkan Matematika melalui pendekatan kontekstual.

Salah satu kegiatan rutin yang menjadi andalan adalah “Jumat Berbagi,” di mana siswa diajak berbagi makanan, buku, atau waktu dengan sesama. Kegiatan ini tidak hanya menanamkan nilai empati, tetapi juga mengajarkan pentingnya rasa syukur dan kepedulian terhadap orang lain. Banyak siswa yang awalnya pemalu kini lebih aktif dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

Tak hanya di sekolah, kolaborasi dengan orang tua juga menjadi bagian penting. Komite sekolah dan wali murid diajak berperan aktif dalam membentuk budaya positif, mulai dari hal sederhana seperti mengatur waktu belajar di rumah, mengawasi penggunaan gawai, hingga memberi teladan sikap baik di lingkungan keluarga.

Respon siswa terhadap program ini pun sangat positif. Naila, siswi kelas VIII SMPN 12, mengaku menjadi lebih percaya diri dan peduli terhadap teman-temannya. “Dulu aku malu kalau disuruh tampil atau bicara. Tapi sekarang, aku berani memberi pendapat dan suka ikut kegiatan sosial,” ujarnya dengan semangat.

Psikolog pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia, Dra. Lestari Yuniarti, menyatakan bahwa pendidikan karakter bukanlah sesuatu yang bisa dicapai dalam semalam. “Dibutuhkan konsistensi dan keteladanan dari semua pihak guru, orang tua, dan lingkungan sekitar. Anak belajar dari apa yang mereka lihat dan alami setiap hari,” tegasnya.

Selain itu, pendidikan karakter juga dinilai penting dalam mencegah perilaku menyimpang di kalangan remaja, seperti perundungan, intoleransi, dan kecanduan media sosial. Dengan nilai-nilai moral yang kuat, siswa dapat memilah mana yang baik dan buruk, serta belajar menyelesaikan masalah dengan bijak.

Di tengah tantangan globalisasi dan media sosial yang begitu masif, pendidikan karakter adalah benteng penting agar anak-anak tetap berpijak pada nilai-nilai luhur bangsa. Kota Bandung membuktikan bahwa membentuk karakter tidak harus membosankan, justru bisa dikemas menjadi pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna.

 

PENDIDIKAN INKLUSIF DI YOGYAKARTA, RUANG

 BELAJAR UNTUK SEMUA ANAK

 

Yogyakarta, 26 Juni 2025. Pendidikan inklusif semakin berkembang di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di Kota Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar. Semangat untuk menyediakan ruang belajar yang setara bagi semua anak, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus, kini menjadi prioritas utama bagi sekolah-sekolah dasar hingga menengah. Pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat bersinergi mewujudkan pendidikan yang ramah dan terbuka untuk semua.

Gambar 4. Kegiatan belajar di kelas inklusif SD. Gambar ilustrasi buatan AI ini digunakan untuk kepentingan edukatif.

Salah satu contoh inspiratif datang dari SD Negeri Percobaan 1 Yogyakarta. Sekolah ini telah menjalankan program inklusi selama lima tahun terakhir dengan pendekatan berbasis empati, pendampingan khusus, dan pelatihan guru. Anak-anak dengan disabilitas belajar bersama teman-temannya di kelas reguler, didampingi oleh guru pendamping yang memahami kebutuhan masing-masing siswa.

Menurut Kepala Sekolah SDN Percobaan 1, Ibu Retno Widyastuti, program ini bukan hanya tentang memberikan akses pendidikan, tetapi juga membangun lingkungan yang saling memahami. “Kami ingin semua anak merasa diterima. Anak-anak berkebutuhan khusus tidak hanya hadir di kelas, tapi juga menjadi bagian dari komunitas belajar yang aktif,” ungkapnya.

Sekolah juga menyediakan fasilitas pendukung seperti jalur ramah disabilitas, alat bantu belajar visual, dan ruang terapi. Guru-guru di sekolah ini secara rutin mengikuti pelatihan pendidikan khusus agar mampu beradaptasi dengan karakter siswa yang beragam. Selain itu, pendekatan pembelajaran pun dirancang fleksibel agar bisa mengakomodasi kemampuan tiap anak.

Salah satu siswa, Arkan (10), yang memiliki gangguan pendengaran, kini bisa mengikuti pelajaran dengan bantuan alat bantu dengar dan papan visual interaktif. “Aku senang sekolah di sini. Teman-teman baik dan guru selalu sabar,” katanya sambil tersenyum. Kisah Arkan menjadi simbol keberhasilan program ini dalam menciptakan ruang belajar yang menyenangkan dan setara.

Tidak hanya berdampak bagi anak-anak berkebutuhan khusus, siswa lain juga mendapat manfaat dari interaksi ini. Mereka belajar empati, toleransi, serta nilai-nilai kebersamaan. Program seperti “Teman Sebangku Berbagi” dan “Belajar Tanpa Batas” mendorong siswa saling membantu dan mendukung, tanpa memandang perbedaan.

Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Pendidikan telah menargetkan semua sekolah negeri di kota ini menjadi sekolah inklusi pada tahun 2027. Kepala Dinas Pendidikan Kota, Bapak Dwi Santosa, menegaskan bahwa pendidikan inklusif adalah bentuk keadilan sosial di dunia pendidikan. “Setiap anak punya hak untuk belajar. Tugas kita adalah membuka jalan, bukan membatasi,” ucapnya.

Pakar pendidikan dari Universitas Negeri Yogyakarta, Dr. Endang Puji Rahayu, menambahkan bahwa pendekatan inklusif memberikan dampak jangka panjang terhadap pembentukan karakter generasi muda. “Lingkungan inklusif menciptakan generasi yang lebih terbuka, tangguh, dan siap menghadapi perbedaan di dunia nyata,” tuturnya.

Dengan komitmen kuat dari sekolah, pemerintah, dan masyarakat, pendidikan inklusif di Yogyakarta terus tumbuh menjadi teladan nasional. Ini bukan sekadar program, melainkan gerakan moral untuk memastikan tidak ada satu pun anak yang tertinggal dalam perjalanan mereka meraih masa depan.

PENDIDIKAN