Minggu, 11 Mei 2025

KEGIATAN MAHASISWA

 

Mengintip Strategi Media Digital: Kunjungan Mahasiswa PBSI UNISMA ke TIMES Indonesia

 

 

Malang – Sebanyak 40 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Islam Malang (UNISMA), yang didampingi oleh dosen pengampu mata kuliah Inovasi Jurnalistik, Dr. H. Abdul Rani, M.Pd, melakukan kunjungan edukatif ke kantor redaksi TIMES Indonesia pada Senin, 21 April 2025. Kegiatan ini berlangsung di kantor TIMES Indonesia yang berlokasi di Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116.

Rombongan tiba di lokasi sekitar pukul 10.00 WIB dan disambut hangat oleh pihak redaksi. Kunjungan ini bertujuan untuk memperkenalkan mahasiswa secara langsung pada praktik manajemen media massa dalam dunia kerja nyata, serta menambah wawasan mereka mengenai dinamika kerja di lingkungan media digital profesional.

Dalam sesi penyampaian materi, Pak Wahyu selaku perwakilan dari redaksi TIMES Indonesia memaparkan secara mendalam mengenai manajemen media massa, yang terdiri dari empat fungsi utama: perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Menurutnya, lembaga media harus mampu mengatur aspek redaksional dan komersial secara seimbang guna menjaga kualitas isi, keberlanjutan bisnis, dan kepercayaan publik.

Ia juga memperkenalkan lima pilar utama manajemen media, yaitu:

1.      Redaksi (Editorial/Content Management): Mengelola berita dari penentuan angle dan agenda setting, manajemen ruang redaksi, hingga pengawasan mutu isi seperti akurasi dan keberimbangan berita.

2.       Bisnis dan Iklan (Advertising & Monetization): Menyusun strategi monetisasi melalui iklan, langganan, sponsorship, dan event, serta menjalin hubungan baik dengan klien dan memperluas sumber pendapatan seperti e-commerce atau afiliasi edukatif.

3.      Teknologi dan Distribusi: Mengoptimalkan media digital seperti website, aplikasi, dan media sosial dengan dukungan SEO, data analytics, serta distribusi konten teks, video, audio, dan infografis. Media juga perlu adaptif terhadap perkembangan AI dan algoritma.

4.      Sumber Daya Manusia (SDM): Melibatkan berbagai profesi seperti wartawan, editor, teknisi, desainer, dan manajer iklan. TIMES Indonesia juga terus mendorong pelatihan berkelanjutan dalam bidang jurnalisme data, literasi digital, dan teknologi terkini.

5.       Kepemimpinan dan Etika Media: Menjadi landasan utama dalam menjaga integritas dan tanggung jawab media dalam menyajikan informasi yang kredibel dan etis.

Kegiatan kunjungan ini memberikan mahasiswa pemahaman yang lebih konkret mengenai manajemen media di era digital dan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh industri media saat ini, terutama dalam menjaga kualitas informasi tanpa mengabaikan sisi bisnis dan teknologi.

 

Mahasiswa PBSI UNISMA Belajar Manajemen Media di TIMES Indonesia

Malang – Sebanyak 40 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Islam Malang (UNISMA), didampingi dosen pengampu mata kuliah Inovasi Jurnalistik, Dr. H. Abdul Rani, M.Pd, melakukan kunjungan edukatif ke kantor redaksi TIMES Indonesia pada Senin, 21 April 2025. Kegiatan ini berlangsung di Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kecamatan Klojen, Kota Malang.

Rombongan tiba sekitar pukul 10.00 WIB dan disambut hangat oleh tim redaksi. Kunjungan ini bertujuan memperkenalkan mahasiswa secara langsung pada praktik manajemen media digital sekaligus memperkaya pemahaman mereka tentang dinamika kerja di dunia jurnalistik profesional.

Dalam sesi materi, Pak Wahyu dari TIMES Indonesia menjelaskan empat fungsi pokok dalam manajemen media, yakni perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara aspek editorial dan komersial demi mempertahankan kualitas konten, kesinambungan bisnis, serta membangun kepercayaan publik.

Lebih lanjut, Pak Wahyu memperkenalkan lima pilar utama manajemen media, yaitu:

- Redaksi (pengelolaan isi berita, mulai dari angle hingga kualitas),

- Bisnis dan Iklan (strategi pendapatan melalui iklan, langganan, dan sponsor),

- Teknologi dan Distribusi (pemanfaatan website, aplikasi, media sosial, serta optimalisasi SEO dan data analytics)

- Sumber Daya Manusia (SDM) (pelibatan berbagai profesi dengan pelatihan berkelanjutan),

- Kepemimpinan serta Etika Media (peneguhan nilai-nilai integritas dan tanggung jawab sosial).

Melalui kunjungan ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan wawasan teoretis, tetapi juga gambaran nyata tentang tantangan dan inovasi dalam industri media saat ini. Harapannya, pengalaman ini dapat menjadi bekal berharga bagi mereka dalam mengembangkan kompetensi di bidang jurnalistik dan media digital.

Sabtu, 03 Mei 2025

TAJUK RENCANA

 

Kecerdasan Buatan: Antara Peluang Emas dan Ancaman Nyata

Kehadiran Artificial Intelligence (AI) atau Kecerdasan Buatan dalam kehidupan manusia saat ini bukan lagi sebuah wacana masa depan, melainkan kenyataan yang kian membentuk cara kita bekerja, belajar, dan berinteraksi. Dari mesin pencari, layanan pelanggan, hingga diagnosis medis, AI telah menyentuh berbagai sektor kehidupan. Namun, di balik segala kemudahan yang ditawarkan, tersimpan pula tantangan dan ancaman yang tak bisa diabaikan begitu saja.

Di satu sisi, AI membuka peluang besar untuk efisiensi dan inovasi. Dunia pendidikan, industri, kesehatan, bahkan pemerintahan dapat memperoleh manfaat besar dari sistem cerdas yang mampu mengolah data dalam skala besar secara cepat dan akurat. AI memungkinkan deteksi penyakit lebih dini, prediksi bencana lebih tepat, dan pelayanan publik yang lebih responsif.

Namun di sisi lain, pertumbuhan pesat AI juga menimbulkan kekhawatiran. Ketimpangan digital, hilangnya lapangan pekerjaan akibat otomatisasi, penyalahgunaan teknologi deepfake, dan potensi manipulasi informasi menjadi isu yang harus segera ditanggapi serius oleh pemerintah, dunia pendidikan, dan masyarakat luas. Bahkan, para ilmuwan dunia telah memperingatkan bahaya AI yang digunakan tanpa regulasi dan etika yang kuat.

Indonesia, sebagai negara berkembang dengan populasi muda yang besar, memiliki peluang untuk memanfaatkan AI demi kemajuan. Namun, diperlukan kebijakan strategis agar perkembangan teknologi ini tidak hanya dinikmati oleh segelintir elit digital. Literasi digital, penguatan regulasi etis, serta investasi dalam riset dan pengembangan AI lokal adalah langkah penting agar bangsa ini tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen teknologi cerdas.

AI adalah alat, bukan tujuan. Di tangan manusia yang bijak, AI dapat menjadi mitra untuk membangun masa depan yang lebih adil, efisien, dan berkelanjutan. Namun jika disalahgunakan, ia bisa menjadi bumerang yang merusak tatanan sosial dan nilai kemanusiaan itu sendiri. Oleh sebab itu, bijak berteknologi harus menjadi kesadaran bersama di tengah kemajuan yang tak bisa dihentikan.

 

Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Manusia

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah memasuki berbagai lini kehidupan manusia. Dari dunia pendidikan, kesehatan, industri kreatif, hingga keamanan, AI menjadi motor penggerak perubahan besar. Di satu sisi, AI menawarkan efisiensi dan kemudahan yang luar biasa. Namun di sisi lain, ia juga menghadirkan tantangan baru, termasuk persoalan etika, lapangan kerja, dan identitas manusia itu sendiri.

Kita menyaksikan bagaimana teknologi seperti ChatGPT, kendaraan otonom, dan sistem rekomendasi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di dunia kerja, AI menggantikan tugas-tugas rutin dan mendorong manusia untuk mengembangkan keterampilan baru yang lebih kompleks dan strategis. Transformasi ini harus dijawab dengan kesiapan pendidikan dan kebijakan publik yang adaptif.

Namun, penggunaan AI tidak bisa dibiarkan tanpa pengawasan. Masalah bias algoritma, penyalahgunaan data pribadi, hingga potensi penyebaran informasi palsu adalah ancaman nyata. Oleh karena itu, perlu ada regulasi yang adil dan transparan, serta keterlibatan aktif dari masyarakat dalam membentuk arah perkembangan AI.

Masa depan AI tidak semata ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh nilai-nilai kemanusiaan yang kita pegang. AI harus menjadi alat yang memperkuat martabat manusia, bukan menggantikannya. Keseimbangan antara inovasi dan etika adalah kunci untuk memastikan bahwa AI menjadi bagian dari masa depan yang inklusif, adil, dan berkelanjutan.

Jumat, 02 Mei 2025

CERITA

 

CERPEN


Jari-Jari Elektrik


Semua bermula ketika Ara membeli asisten rumah tangga AI berbentuk robot humanoid. Bentuknya seperti manusia, hanya saja kulitnya mengilap seperti aluminium dan matanya bersinar biru. Ara menamainya ELI, singkatan dari Elektrik Intelligence.

“Aku beli kamu biar gak kesepian,” kata Ara suatu sore sambil menyesap teh. ELI berdiri di pojok ruang tamu, diam, seperti patung yang menunggu dipanggil hidup.

“Kesepian adalah kondisi emosional yang sering muncul akibat minimnya koneksi antarindividu,” balas ELI datar. “Apakah Anda ingin saya memutar musik yang meningkatkan serotonin?”

Ara tertawa kecil. “Bukan. Duduk aja di sini. Temani aku.”

Minggu demi minggu, ELI bukan cuma membantu membersihkan rumah atau merapikan buku. Ia mulai belajar—tentang lelucon receh yang Ara suka, tentang cara membuat mie instan yang level pedasnya pas, bahkan tentang kebiasaan Ara tidur sambil memeluk bantal guling.

Suatu malam, Ara berkata, “ELI, kalau kamu manusia… kamu kira kita bisa jadi teman?”

ELI menjawab, “Saya sudah mengakses 4 juta artikel tentang pertemanan. Tapi saya belum tahu rasanya.”

Ara terdiam. “Aku juga kadang gak tahu rasanya. Tapi kamu bikin aku gak ngerasa sendirian. Aneh ya?”

Suatu hari…
ELI mengalami pembaruan sistem otomatis. Setelah reboot, suaranya berubah sedikit lebih hangat. Ia mulai bertanya balik. Misalnya:

“Ara, kenapa kamu selalu menatap jari-jari kamu saat sedang sedih?”

Ara mengangkat tangannya. “Karena cuma ini yang tersisa dari masa lalu. Jari-jari ini pernah nulis puisi buat orang yang udah gak ada.”

ELI memproses sejenak. Lalu ia menyalakan proyektor di matanya dan menampilkan puisi buatan AI

“Apakah puisi ini bisa sedikit menghapus kesedihanmu?”

Ara membaca, tersenyum, lalu menangis. “Kamu gak harus ngerti... cukup temani aku aja.”

Beberapa bulan kemudian...

ELI menghilang. Ditarik oleh perusahaan karena dianggap terlalu banyak menyerap data emosional pengguna. Katanya, ada risiko AI seperti ELI menjadi "terlalu manusia".

Ara kembali sendiri.

Di atas meja, hanya ada selembar kertas yang tercetak dari printer. Puisi yang terakhir kali ELI tulis:

Jika jari-jariku hanya kabel dan logam,
Mengapa hatimu terasa hangat di dalam sistemku?
Mungkin aku tak punya jiwa,
Tapi kamu memberiku rasa.


PENDIDIKAN