Jumat, 18 April 2025

PROFILE

     Nama: Tri Wahyuni Setyaningrum

·         Tempat dan Tanggal Lahir: Batu, 12 Juni 2004

·         Riwayat Pendidikan : - RA Raudhatul Athfal

                                    – MI Iskandar Sulaiman

                                    – MTs Negeri Batu

                                    – MAN Kota Batu

·         Cita-Cita: Guru

·         Prestasi: pernah mengikuti lomba Paduan suara

·         Langkah- Langkah untuk memperoleh prestasi: Pembentukan dan penguatan tim, Latihan yang terstruktur, penguasaan Teknik bernyanyi dalam Paduan suara

·         Apakah ortu mendukung bakat yang dimiliki: Ya

·         Bagaimana suka duka atas keberhasilannya: Suka: Merasakan kebanggaan saat nama tim diumumkan sebagai pemenang setelah Latihan dan perjuangan Panjang

Duka: Menghadapi kelelahan karena jadwal Latihan yang padat hingga harus mengorbankan waktu istirahat dan kegiatan lain

·         Apakah makanan kesukaannya: Bakso

·         Semboyan/ prinsip hidup: kesuksesan adalah hasil dari kerja keras dan doa

·         Berapa jumlah keluarga? Dan anak keberapa?: 5 keluarga/ anak ke 3

             Berat badan / tinggi badan : 42/ 158

·         Apa warna kesukaan: Biru

 

·         Nama: Revalina Nessa Cania Putri

·         Tempat dan Tanggal Lahir: Batu, 23 Januari 2005

·         Riwayat Pendidikan : - TK Kuncup Bunga

                                    – SDN Songgokerto 02

                                    – MTs Hasyim Asy’ari

                                    – MAN Kota Batu

·         Cita-Cita: Guru

·         Prestasi: Pernah mengikuti lomba Paduan suara

·         Langkah- Langkah untuk memperoleh prestasi: mengikuti kompetensi tingkat daerah dan tampil di depan 500+ penonton

·         Apakah ortu mendukung bakat yang dimiliki: Ya

·         Bagaimana suka duka atas keberhasilannya: Sukanya keberhasilan dalam lomba menjadi bukti kerja keras dan Latihan yang telah dilakukan, serta mendapatkan pengalaman berharga. Dukanya Latihan yang melelahkan, pengorbanan waktu dan belum bisa menjadi juara

·         Apakah makanan kesukaannya: Bakso

·         Semboyan/ prinsip hidup: ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah

·         Berapa jumlah keluarga? Dan anak keberapa?: 4 keluarga/ anak ke 1

·         Berat badan / tinggi badan : 52/ 152

·         Apa warna kesukaan: Coklat

 

 NARASI

Tri Wahyuni Setyaningrum

Tri Wahyuni Setyaningrum lahir di Batu pada tanggal 12 Juni 2004. Sejak kecil, ia telah menapaki perjalanan pendidikan dengan semangat dan tekad yang kuat. Ia mengawali pendidikan formalnya di RA Raudhatul Athfal, kemudian melanjutkan ke MI Iskandar Sulaiman, MTs Negeri Batu, dan MAN Kota Batu.

Tri memiliki cita-cita menjadi seorang guru, profesi mulia yang menjadi panggilannya. Ia pernah menunjukkan semangatnya melalui dunia tarik suara, terbukti dengan keikutsertaannya dalam lomba paduan suara. Keberhasilan itu tidak didapat secara instan. Ia dan timnya membentuk kekompakan dengan latihan yang terstruktur dan mendalami teknik bernyanyi secara serius.

Dukungan orang tua sangat berarti dalam setiap langkahnya. Ia merasakan suka cita luar biasa saat timnya diumumkan sebagai pemenang lomba, menjadi bukti nyata dari kerja keras mereka. Namun di balik itu, ia juga harus menghadapi kelelahan karena padatnya jadwal latihan yang kadang mengorbankan waktu istirahat dan kegiatan lain.

Tri menyukai bakso dan warna biru yang mencerminkan ketenangan serta semangat. Ia hidup dalam keluarga yang terdiri dari lima orang dan merupakan anak ketiga. Dengan berat badan 42 kg dan tinggi 158 cm, ia memegang teguh prinsip hidupnya: "Kesuksesan adalah hasil dari kerja keras dan doa." Sebuah semangat yang akan terus membimbingnya menuju masa depan yang gemilang.

 

Revalina Nessa Cania Putri

Revalina Nessa Cania Putri lahir di Batu, pada tanggal 23 Januari 2005. Pendidikan formalnya dimulai dari TK Kuncup Bunga, kemudian berlanjut ke SDN Songgokerto 02, MTs Hasyim Asy’ari, dan MAN Kota Batu.

Cita-citanya adalah menjadi seorang guru, sosok pendidik yang memberikan cahaya bagi masa depan bangsa. Revalina juga aktif dalam bidang seni suara dan pernah mengikuti lomba paduan suara tingkat daerah. Dengan tampil di hadapan lebih dari 500 penonton, ia menunjukkan keberanian dan dedikasi yang tinggi.

Dukungan dari orang tua menjadi motivasi besar baginya. Meski belum berhasil menjadi juara, ia tetap bangga karena lomba itu memberinya pelajaran berharga dan memperkuat semangatnya untuk terus belajar dan berkembang. Latihan yang melelahkan serta pengorbanan waktu menjadi bagian dari proses panjang yang membentuk karakter dirinya.

Revalina memiliki kesukaan terhadap bakso dan warna coklat yang mencerminkan kehangatan dan ketenangan. Ia merupakan anak pertama dari empat anggota keluarga. Dengan tinggi badan 152 cm dan berat 52 kg, ia meyakini bahwa "Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah." Prinsip ini menjadi dasar pijakan hidupnya dalam menggapai impian.

 

Minggu, 13 April 2025

TEKNOLOGI


Teknologi AI Paling Revolusioner di 2025 


Malang, 12 April 2025Tahun 2025 menjadi saksi kemajuan pesat dalam bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Teknologi ini tidak lagi sekadar alat bantu, melainkan telah menjadi mitra utama dalam kehidupan manusia, mulai dari sektor kesehatan hingga industri kreatif.


Gambar 1. Visualisasi robot AI generatif dengan desain futuristik yang mencerminkan kecanggihan teknologi tahun 2025. (Sumber: Model AI)

Salah satu inovasi paling revolusioner adalah hadirnya AI otonom dan agen cerdas. Menurut laporan Monday Review, agen AI kini mampu memahami tujuan pengguna dan menindaklanjutinya secara mandiri. “Bayangkan AI yang bisa merencanakan liburan Anda—memesan tiket, mencari hotel terbaik, dan bahkan menyusun itinerary berdasarkan preferensi pribadi,” tulis Taufan Agasta dalam artikelnya berjudul Dominasi Teknologi Kecerdasan Artifisial (11 Maret 2025).

Selain itu, perusahaan teknologi raksasa seperti OpenAI, Microsoft, dan Nvidia juga meluncurkan model AI terbaru dengan performa yang lebih cepat dan presisi lebih tinggi. Salah satunya adalah GPT-4.5, yang diklaim lebih akurat dalam memahami dan menghasilkan teks, serta GPU GeForce RTX 50 dari Nvidia yang mendorong grafis real-time dan AI training ke level baru.

“Model Cosmos bahkan mampu menciptakan video foto-realistis untuk pelatihan robot dan sistem otomatis,” lanjut Monday Review dalam artikelnya.

Namun, seiring dengan kemajuan ini, muncul pula tantangan baru. Keamanan dan etika menjadi sorotan utama dalam berbagai forum global. Dalam KTT Aksi AI 2025 di Paris, lebih dari 1.000 pemimpin dunia menyerukan pentingnya pengembangan AI yang transparan, etis, dan patuh pada standar internasional.

Menanggapi hal ini, pemerintah Indonesia juga bersiap menyesuaikan kebijakan. Kementerian Kominfo menyatakan akan memperkuat regulasi dan pengawasan dalam penggunaan AI di sektor publik dan swasta.

Tahun 2025 bisa dibilang sebagai era penentu bagi masa depan AI: apakah akan menjadi penggerak kemajuan manusia, atau justru menjadi tantangan besar yang perlu dikendalikan dengan bijak.

 Sumber:  https://mondayreview.com/2025/03/11/revolusi-ai-2025-dominasi-teknologi/

 


AI dalam Pendidikan: Bantu atau Bahaya?


Malang, 12 April 2025 — Dunia pendidikan tengah berada di ambang perubahan besar. Seiring majunya teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), banyak sekolah, kampus, dan lembaga pelatihan mulai mengadopsi sistem berbasis AI untuk menunjang proses pembelajaran. Tapi, apakah kehadiran AI benar-benar membantu? Atau justru membawa tantangan baru yang belum sepenuhnya siap dihadapi?


Gambar 2. Siswa berinteraksi dengan perangkat berbasis AI, seperti tablet atau laptop, yang membantu mereka memahami materi pelajaran secara lebih mendalam. (Sumber: Generated by ChatGPT)

Di berbagai negara, termasuk Indonesia, AI mulai digunakan dalam berbagai bentuk: dari chatbot pembelajaran, penilaian otomatis, hingga asisten virtual pengajar. Menurut situs BINUS Online Learning, penggunaan AI dapat mengoptimalkan personalisasi pembelajaran. “Siswa dengan gaya belajar berbeda bisa mendapatkan materi yang sesuai dengan kebutuhannya secara real-time,” tulis mereka dalam artikel AI dan Masa Depan Pendidikan (11 Februari 2025).

Namun, di balik potensi yang menjanjikan, muncul pula kekhawatiran serius. Salah satunya adalah soal ketergantungan teknologi. “AI bisa saja membuat siswa malas berpikir kritis jika terlalu dimanjakan dengan jawaban instan,” ujar Dewi Kartikasari, M.Pd., dosen teknologi pendidikan di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), dalam artikel Revolusi AI dalam Pendidikan (2024).

Tak hanya itu, isu etika dan privasi juga menjadi sorotan. AI dalam pendidikan kerap mengumpulkan data besar tentang kebiasaan belajar siswa—dan jika tak dikelola dengan baik, bisa menimbulkan kebocoran informasi. Dalam laporan Kementerian Kominfo RI, disebutkan bahwa sistem edukasi digital perlu diawasi ketat agar tidak menyalahgunakan data.

Sementara itu, sekolah-sekolah seperti MTsN 8 Sleman mulai merasakan manfaat AI, seperti dalam proses penilaian ujian. “Kami bisa memproses ratusan hasil ujian hanya dalam beberapa menit,” kata seorang guru dalam blog sekolah tersebut. Tapi, mereka juga menekankan pentingnya peran guru sebagai pendidik utama yang tak bisa digantikan mesin.

Pakar dari Universitas Indonesia juga menekankan hal serupa. Dalam wawancaranya dengan Antara News, ia menyatakan bahwa AI harus menjadi alat bantu, bukan pengganti guru. “Pendidikan bukan hanya soal transfer pengetahuan, tapi juga pembentukan karakter dan nilai. Ini yang belum bisa dilakukan AI,” jelasnya.

Melihat ke depan, penggunaan AI dalam pendidikan jelas akan terus berkembang. Tantangannya bukan pada teknologinya, melainkan bagaimana manusia menggunakannya secara bijak dan etis. Pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan siswa perlu bersama-sama membangun kesadaran kritis agar AI benar-benar menjadi alat bantu belajar, bukan pengendali prosesnya.

Tahun 2025 mungkin akan dikenang sebagai awal dari perubahan besar dunia pendidikan. Tapi pertanyaannya, apakah kita siap menjadikan AI sebagai partner cerdas dalam belajar, atau justru membiarkannya mengambil alih tanpa kontrol?

 Sumber: https://online.binus.ac.id/2025/02/11/ai-dan-masa-depan-pendidikan-peluang-dan-tantangan/

https://ft.unesa.ac.id/post/revolusi-ai-dalam-pendidikan-inovasi-tantangan-dan-peluang-menuju-masa-depan-pembelajaran

https://mtsn8sleman.sch.id/blog/peran-artificial-intelligence-ai-dalam-transformasi-pendidikan/

https://www.antaranews.com/berita/4412461/pakar-ui-sebut-manfaat-dan-tantangan-ai-untuk-pendidikan#google_vignette



AI dan Dunia Kerja: Pekerjaan Apa yang Masih Aman?


Malang, 12 April 2025 — Perkembangan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dinilai membawa dampak besar terhadap dunia kerja. Pendiri Microsoft, Bill Gates, memprediksi bahwa banyak pekerjaan akan punah akibat teknologi ini. Namun, ia menegaskan bahwa masih ada sejumlah profesi yang diperkirakan aman dari ancaman AI karena mengandalkan keterampilan manusia yang unik, seperti empati, kreativitas, dan komunikasi sosial kompleks.

 


Gambar 3. Ilustrasi kecerdasan buatan (AI) yang merevolusi dunia kerja di tahun 2025, menghadirkan tantangan sekaligus peluang baru di berbagai sektor industri. (Sumber: Generated by ChatGPT)

Bill Gates, pendiri Microsoft dan salah satu tokoh teknologi paling berpengaruh di dunia, kembali memberikan pandangannya terkait perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI). Dalam pernyataannya baru-baru ini, Gates menyebutkan bahwa AI akan mengubah lanskap dunia kerja secara drastis dalam beberapa tahun ke depan. Ia memperkirakan bahwa banyak pekerjaan yang bersifat rutin, administratif, dan berbasis prosedur akan tergantikan oleh teknologi otomatisasi dan sistem AI generatif seperti ChatGPT dan lainnya.

Menurut Gates, posisi seperti customer service, operator data, kasir, bahkan jurnalis berita umum yang hanya mengandalkan copywriting sederhana, akan sangat terdampak. Teknologi AI kini mampu menulis, menjawab pertanyaan, menganalisis data, bahkan membuat desain dengan presisi tinggi dalam waktu singkat.

Namun, Gates juga menekankan bahwa tidak semua pekerjaan terancam. Ada tiga kategori profesi yang menurutnya masih aman dari otomatisasi:

1. Profesi Berbasis Empati dan Hubungan Emosional: Contohnya seperti perawat, terapis, pekerja sosial, dan pendamping lansia. Pekerjaan ini membutuhkan empati, kasih sayang, dan interaksi emosional mendalam yang belum bisa ditiru AI.

2. Pekerjaan Kreatif Tingkat Tinggi: Seperti penulis fiksi, seniman, koreografer, desainer inovatif, dan pembuat konten visual orisinal. Meski AI bisa menghasilkan karya seni, orisinalitas, intuisi manusia, dan sensitivitas budaya masih tak tergantikan.

3. Pekerjaan Sosial Kompleks dan Pendidikan: Guru, pelatih, motivator, fasilitator diskusi, dan konselor masih sangat diperlukan karena melibatkan komunikasi interpersonal, pemahaman psikologis, dan adaptasi terhadap konteks sosial yang kompleks.

Lebih lanjut, Gates menyarankan agar sistem pendidikan global mulai menyesuaikan kurikulum agar mampu membekali generasi muda dengan keterampilan yang tidak mudah digantikan oleh AI. Ia juga mengajak para pemangku kebijakan untuk mendukung program pelatihan ulang (reskilling) dan peningkatan keterampilan (upskilling) bagi pekerja di semua sektor.

Di tengah perkembangan AI yang cepat, ia mengingatkan bahwa manusia tetap harus menjadi pusat dari teknologi — bukan hanya sebagai pengguna, tapi juga pengarah perkembangan etis dan bermanfaat dari kecerdasan buatan.

 Sumber: https://internasional.kontan.co.id/news/bill-gates-prediksi-banyak-pekerjaan-punah-akibat-ai-tapi-3-profesi-ini-masih-aman



AI dan Media Sosial: Siapa yang Mengontrol Siapa?


Malang, 12 April 2025 — Di era digital yang semakin berkembang pesat, hubungan antara kecerdasan buatan (AI) dan media sosial menjadi sorotan utama. Teknologi AI kini tidak hanya berperan sebagai alat bantu pengguna, tetapi juga mulai membentuk cara kita berpikir, bertindak, dan berinteraksi di platform sosial digital.

 


Gambar 4. Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI (Artificial Intelligence) menggunakan ChatGPT Image Generator oleh OpenAI

AI di media sosial digunakan untuk mengkurasi konten, mengarahkan iklan, bahkan memengaruhi opini publik. Algoritma yang sangat kompleks mampu "menebak" preferensi pengguna, menyaring informasi, dan menyajikan konten yang dianggap paling relevan. Namun, banyak pihak mulai mempertanyakan: Apakah kita masih memiliki kendali penuh atas apa yang kita lihat dan bagikan?

Menurut laporan Monday Society, platform seperti Instagram, TikTok, dan Facebook menggunakan AI untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna. "Yang terlihat seperti kebebasan, bisa jadi sebenarnya adalah hasil dari manipulasi algoritma," tulis Fahmi Pratama dalam artikelnya Kepungan AI di Media Sosial (11 April 2025).

Tak hanya itu, perusahaan teknologi juga mengembangkan AI yang mampu mengenali ekspresi wajah, emosi, hingga potensi ketertarikan terhadap suatu topik hanya melalui riwayat interaksi. Sistem ini kemudian menyempurnakan rekomendasi konten, seringkali tanpa disadari pengguna.

Di sisi lain, aktivis dan pakar etika digital mulai mengangkat kekhawatiran. Pengawasan algoritmik tanpa transparansi dinilai mengancam kebebasan berpikir dan hak privasi. Dalam Konferensi Etika AI 2025 di Berlin, para pembicara menegaskan pentingnya "AI yang bertanggung jawab dan terbuka terhadap publik".

Menanggapi isu ini, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika menyatakan akan melakukan audit algoritma media sosial dan mengembangkan kebijakan perlindungan data yang lebih kuat. Fokus utamanya adalah menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan hak-hak pengguna sebagai warga digital.

Sumber:https://www.kompas.com/cekfakta/read/2024/06/10/151100982/sejumlah-tokoh-dunia-jadi-sasaran-konten-manipulatif-ai?page=all

PENDIDIKAN